23 May 2011

jam yang bersistem


pukul berapa sekarang ? cuba lihat jam anda...

alhamdulillah... bukan masa yang ingin dibicarakan....

cuba bongkar isi jam tangan anda... apa yg ada ?

bagi yang memakai jam tangan jarum,

sudah pasti anda akan nampak gear-gear jam...

dan semestinya gear-gear itu lebih dari satu...

kerana jam punyai jarum saat, minit dan jam...

maka kadar pergerakan untuk setiap jarum juga berbeza...

begitu juga dengan gear-gear nya...

maka itulah yang dikehendaki oleh orang yang mencipta jam...

jam itu difitrahkan oleh orang yang menciptanya untuk mengikut arus masa...

jadi, gear-gearnya juga harus bergerak mengikut masanya...

gear-gearnya juga mesti bergerak mengikut arah yang telah ditetapkan...

supaya sebuah jam dapat dicipta dan memenuhi kriteria sebuah jam yang sempurna...

begitulah jam di-sistem-kan oleh orang yang menciptanya...

.............................




kemudian ada jam yang gear nya bengkok...

ada jam yang gigi-gigi gearnya tidak sempurna dan cukup...

ada jam yang punyai gear yang bergerak laju sentiasa semuanya...

ada jam yang punyai gear yang bergerak lambat sentiasa semuanya...

maka jam-jam ini diperlihatkan kepada orang yang menciptanya...

dan orang itu katakan...

"jam ini sudah rosak"

kenapa rosak ?

sebab tiada sistem dalam jam tersebut...

bila jam-jam tersebut tidak bersistem, maka ianya rosak...






begitulah kita...

kita adalah jam...

dan ALLAH telah ciptakan sistem untuk kita...

sistem itu adalah ISLAM...

....................................

05 May 2011

Jumu'ah Mubarak



Assalamualaikum w.b.t

Setinggi-tinggi ucapan kesyukuran kepada Allah yang masih lagi memberikan kita nikmat yang sangat banyak tanpa kita membayarnya sedikit pun, selawat dan salam atas junjungan Nabi Muhammad serta keluarga dan para sahabat, yang bersusah payah menegakkan kebenaran sehingga kemanisan iman dan Islam terasa hingga kini, Alhamdulillah untuk segala-galanya, semoga kita juga terus thabat dalam apa jua kebaikan yang dilakukan.

Alhamdulillah, ini ada sedikit ole-ole dari masjid UIA. Kerana ana masih lagi bukan orang yang paling sesuai untuk menjamu iman antum, jadi jemputlah, jangan malu-malu. Semoga khutbah Jumaat yang bertarikh 1/4/2011 dari al-fadhil Sheikh Riad Ouarzazi ini dapat menambah iman dan memperbaharui semangat kita semua. MasyaAllah!! Semoga bermanfaat ^_^
WaLlahu Ta’alaa A’lam

p/s- yang dah tengok, kene tengok lagi… yang masih belum, lagilah kene tengok!!

Bismillah~

02 May 2011

sahabat atas keimanan itu~


mari kita telusuri, kisah indah dua sahabat Rasulullah.
mendahulukan iman, dan sahabat.
mengenepikan rasa hati yang sarat.
hanya untuk menggapai mardhotillah.

***

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihanmenurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.


Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.


Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.


”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.


”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.


”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.


Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.


”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”


♥♥♥


Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?


Ijinkan saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku Tazkiyatun Nafs, beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadiorang yang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,

  1. Shidqun Niyah

Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

  1. Shidqul ‘Azm

Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.

  1. Shidqul Iltizam

Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.

  1. Shidqul ‘Amaal

Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.


Nah, mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran dan bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.

♥♥♥

Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insyaallah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.

Maka jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:

  1. Persiapan Ruhiyah (Spiritual)

Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.

  1. Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)

Bersiaplah menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.

  1. Persiapan Jasadiyah (Fisik)

Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.

  1. Persiapan Maaliyah (Material)

Yang terpenting bukan bekerjanya –apalagi tetap-, melainkan harus berpenghasilan. Selebihnya kemampuan mengelola keuangan.

  1. Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)

Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.

Nah, ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. Lalu, kapan kita menikah?



Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.



“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)



Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalh penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.


Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.



Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:



“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.” (HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah)


Pernah di sebuha milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rizqi. Jadi logikanya begini. Jatah rizqi kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.



Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insyaallah jantan. Cuma banyak ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rizqi. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.



Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang halal dinikmati (ups!) Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rizqi akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,



“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh 10-12)



Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insyaallah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.



“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (Nuh 13)


Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, salam hangat dari saya..

Salim A. Fillah.

25 April 2011

izinkanlah aku untuk terus tinggal di sini

"Sesiapa yang ingin mencontohi seseorang, maka ambillah contoh daripada mereka yang telah mati. Kerana orang yang masih hidup belum terjamin kesudahan hidupnya" (Kata-kata Salaf)
~*~
Membuat keputusan hidup mati di hadapan insan yang menjadi sebab kewujudannya bukanlah suatu yang mudah. Tapi, sejarah telah menulis keputusan yang diambil olehnya; membunuh syirik pada insan tersebutayahnya. Ada sesuatu yang terpacak kuat dalam dirinya yang memungkinkan keputusan itu diambil tanpa ragu.

Ada lagi kisah yang menarik.

Suasana perang Uhud tidak memihak kepada tentera muslimin. Benteng pertahanan mula goyah. Musuh berjaya menembusi barisan tentera islam. Perhatian tentera musyrikin ditumpukan kepada Muhammad Rasulullah. "Tunjukkan aku mana Muhammad!!" teriak tentera yang menerima kekalahan besar di medan Badar. Dalam keadaan genting, musuh menerpa masuk ke kawasan Rasulullah. Bagaimana untuk mempertahankan Rasulullah? Seorang sahabat membiarkan dadanya menjadi benteng dan perisai kepada tombak yang menjunam dan panah yang dilepaskan dari busur.

Selesai perang, ternyata Rasulullah mengalami kecederaan. Gigi baginda patah, kulit dahinya terkoyak dan di pipinya, terbenam dua mata rantai baju perisai baginda. Seorang sahabat mencabut mata rantai itu menggunakan giginya sehingga gigi kacipnya patah jatuh ke bumi. Boleh sahaja dia menggunakan tangan untuk mencabutnya, tapi itu akan menyakitkan Rasulullah. Lalu dia mengorbankan giginya.

Ada lagi kisah yang menarik.

"Hulurkan tanganmu, aku ingin berbaiah kepadamu." pinta Umar al-Khottob. Lalu dia menjawab, " Aku tidak ingin mendahului lelaki yang dilantik Rasulullah mengimamkan kita dalam sembahyang."

Ada lagi kisah yang menarik.

Air mata Umar al-Khottob, khalifah kedua, mengalir kerananya. Syam ketika itu dilanda wabak taun. Seorang demi seorang meninggal dunia. Seorang sahabat yang memimpin tentera Islam menawan Syam menerima surat daripada Umar memintanya untuk keluar dari Syam. Sahabat itu menjawab, "Sesungguhnya, aku merupakan salah seorang dari tentera Islam. Aku tidak ingin untuk menyelamtkan diri daripada bencana yang menimpa mereka. Aku tidak akan meninggalkan mereka sehingga Allah membuat keputusan untuk aku dan mereka...Izinkanlah aku untuk terus kekal di sini."

Selang beberapa waktu, ruhnya dijemput oleh Allah.

...dan sahabat itu ialah Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah..antara sepuluh yang dijamin syurga...

Apa yang boleh kita pelajari dari beliau? Sambung di ruangan komen di bawah~

Rujukan: Suwar min hayaat as-shohabah

23 April 2011

Kerana Mereka Penghuni Syurga : Said bin Zaid

Bismillah.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semoga kisah hamba-Mu yang dijanjikan syurga mampu membangkitkan jiwa yang sedang dibuai mimpi agar kami mengetahui bahawa nilai syurga-Mu bukanlah boleh dijual beli dengan hidup bersenang lenang di muka bumi.


Selawat dan salam ke atas junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarga serta sahabat baginda yang rela berkorban demi agama Islam. 


( Taba, Mesir)




Kawan-kawan yang dikasihi,
Pasti ada antara kita yang pernah mendengat satu kisah dimana Umar Al-Khattab telah menampar suami Fatimah al-Khattab dan juga Fatimah Al-Khattab (adik kepada Umar) apabila mengetahui mereka telah memeluk agama Muhammad SAW iaitu agama Islam. Kisah ini berlaku sebelum Umar al-Khattab memeluk agama Islam/


Persoalannya kawan-kawan. Pernahkan kita terfikir siapakan suami Fatimah Al-Khattab?


  _*****_*****_*****_*****_*****_*****_

Kawan-kawan, mahu tahu tak..
Suami pada Fatimah Al-Khattab  adalah orang yang penting dalam sejarah Islam kerana dia adalah antara orang yang dijamin masuk syurga.

Nama lelaki yang bertuah itu ialah Said bin Zaid

Baiklah, kita mulakan kisah Said bin Zaid dengan berta'aruf sebentar sedikit kisah ayah kepada Said dalam mencari agama yang benar.
Nama ayah Said ialah Zaid bin Amru bin Nufail.

Kisahnya begini...

Suatu hari, Zaid sedang duduk di satu sudut di Mekah. Zaid memerhatikan kaumnya, orang Quraisy yang sedang sibuk berpesta. Orang lelaki memakai serban Sandusi yang dikatan kelihatan seperti kerudung Yaman yang mahal.Wanita pula memakai pakaian bergaya berwarna terang menyala. Orang-orang Quraisy menghiaskan ternakan mereka kerana mahu bawa dan persembahkan kepada Tuhan. 

Zaid sandarkan badannya di Ka'abah. Lantas Zaid berkata:

"Wahai orang-orang Quraish. Kambing-kambing itu ciptaan Allah. Allah yang menurunkan hujan. Kambing itu minum daripada hujan itu. Allah tumbuhkan rumput-rumput dimana kambing-kambing itu makan rumput tersebut sehingga kenyang. Kemudian kalian sembelih binatang itu tanpa menyebut nama Allah. Aku nampak kalian adalah orang-orang yang sesat dan jahil."

Al-Khattab (ayah kepada Umar Al-Khattab) yang berada di situ lantas bangun dan menampar Zaid kerana marah dengan kata-kata Zaid tadi. Dengan lantang al-Khattab berkata:

" Engkau kurang ajar! Aku dah dengar banyak kali engkau cakap seperti ni. Dah lama kami sabar. Tapi aku dah hilang sabar."

Kemudian al-Khattab yang merupakan orang berpengaruh  pergi menghasut orang Quraisy supaya menyakiti Zaid lantaran sikap Zaid yang membenci dan mencela agama mereka. Lalu,orang-orang Quraisy pun menyakiti Zaid. Orang-orang Quraisy telah menyakiti Zaid sehingga Zaid pergi memencilkan diri di Gua Hira'.

Digambarkan betapa teruknya  orang-orang Quraisy menyakiti Zaid sehingga Zaid tidak boleh pulang ke Mekah melainkan secara rahsia.  

Suatu hari,Zaid pulang ke Mekah secara rahsia dan berjumpa dengan 4 orang untuk berbincang masalah kaum mereka yang sudah jauh tersesat daripada agama Nabi Ibrahim. 4 orang tersebut ialah:

1) Waraqah bin Naufal
2) Abdullah bin Jahsyi
3) 'Uthman bin Harith
4) Umaimah binti Abdul Muthalib

Mereka berlima duduk berbincang dan Zaid berkata,

“Demi Allah! Sesungguhnya kalian sudah maklum bangsa kita sudah tidak mempunyai agama. Mereka sudah sesat dan menyeleweng dari agama Ibrahim yang lurus. Oleh itu marilah kita pelajari suatu agama yang dapat kita pegang jika saudara-saudara inginmenjadi orang yang beruntung.”

Lantas, empat orang lelaki itu pergi menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang sebenar. 

Dia akhir pencarian tersebut, Waraqah bin Naufal meyakini agama Nasrani. Manakala ‘Abdullah bin Jahsyi dan 'Uthman bn Harith tidak menemukan apa-apa. Sedangkan Zaid bin ‘Amr bin Nufail mengalami kisah tersendiri. 

Kisahnya begini ye kawan-kawan:

Zaid berkata:

“Saya pelajari agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi keduanya saya tinggalkan karena saya tidak memperoleh sesuatu yang dapat menenteramkan hati saya dalam kedua agama tersebut. Lalu saya berkelana ke seluruh pelosok mencari agama Ibrahim. Ketika saya sampai ke negeri Syam, saya diberitahu tentang seorang Rahib yang mengerti Ilmu Kitab. Maka saya datangi Rahib tersebut, lalu saya ceritakan kepadanya pengalaman saya belajar agama.
 Rahib itu berkata:

"Aku nampak kamu ni mahu agama hanif iaitu agama Nabi Ibrahim"
Zaid pun menjawab:

"Ya,memang aku mahu mencari agama hanif"
Lalu Rahib pun berkata:

"Kamu ni sedang mencari agama  "la tujad al-yaum" ( tiada pada zaman sekarang) . Tetapi pulanglah kamu ke negerimu. Allah akan membangkitkan seorang Nabi di tengah-tengah bangsamu untuk menyempurnakan agama Ibrahim. Maka bila kamu bertemu dia, tetaplah kamu bersamanya"
Zaid berhenti mengembara mencari agama yang hak. Zaid kembali ke Makkah  untuk menunggu Nabi yang dijanjikan. 

Ketika Zaid sedang dalam perjalanan pulang, Allah mengutus Nabi Muhammad menjadi Rasul dengan agama yang hak . Zaid masih belum sempat untuk  bertemu dengan Nabi Muhammad. Ditakdirkan Allah, dalam perjalanan ke Mekah dia dihalang perompak-perompak Badwi di tengah jalan lantas terbunuh sebelum dia sampai kembali ke Makkah. 

Sewaktu Zaid inginmenghembuskan nafas yang terakhir,Zaid memandang ke langit dan berkata:

 “Wahai Allah! Jika Engkau mengharamkanku dari agama lurus ini, maka janganlah anakku Sa ‘id diharamkan pula daripadanya.”


  _*****_*****_*****_*****_*****_*****_

KISAH SAID BIN ZAID


Allah SWT telah memperkenankan doa Zaid bin Amru.

Bila Rasulullah SAW diutuskan di Mekah, Said merupakan antara golongan pertama memeluk Islam.
Said ialah orang yang beriman dengan Allah dan membenarkan ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Said diasuh di rumah yang mengingkari kejahatan dan kesesatan yang orang Quraish. Said diasuh dalam kamar ayahnya (Zaid bin Amru) yang hidup dalam mencari kebenaran.Bahkan ayahnya menghembuskan nafas terakhir ketika sedang mencari dalam kepayahan untuk mengejar agama yang benar. 

Zaid tidak memeluk Islam sendirian, malahan Zaid memeluk Islam bersama dengan isterinya, Fatimah Al-Khattab (adik kepada Umar Al-Khattab).

Kawan-kawan yang disayangi,

Sepertimana Sumayyah yang syahid disula, Bilal bin Rabah yang diseksa di tengah padang pasir yang panas ditambah dengan diletakkan batu yang besar di dadanya, Khabab bin Arat yang dipanggang di atas bara api sehingga bara api itu terpadam lantaran lemaknya mencair...
Begitulah juga dengan Said bin Zaid yang tidak terlepas daripada seksaan orang-orang kafir.

Kawan-kawan yang dikasihi,

Sepertimana golongan Islam yang terawal mempertahankan agama Islam dan aqidah mereka agar tertegak di muka bumi, seperti itulah kita perlu mendidik jiwa-jiwa kita agar terus sabar dan tabah dalam mempertahankan agama Islam.InsyaAllah :)

Walaupun Said diseksa, namun itu tidak menjadi alasan untuk Said menarik orang-orang luar memeluk Islam. Sehingga Said menjadi antara sebab islamnya Saidina Umar Al-Khattab.

Said sepanjang hidup pemudanya berbakti  untuk Islam. Said masuk Islam sebelum usianya 20 tahun. Said dapat bersama dengan Rasulullah SAW dalam semua peperangan kecuali perang Badar kerana Said diberi tugas lain oleh Rasulullah SAW.

Said juga mengambil bahagian dalam menjatuhkan kerajaan Qisra,Parsi dan Qaisa,Rom.

Dalam banyak-banyak peperangan yang Said sertai,ada satu perang yang kisahnya menarik untuk dikongsikan iaitu di dalam perang Yarmouk dimana ketika ini Rasulullah SAW telah pun tiada (wafat).

Kisahnya begini, Perang Yarmouk telah mempertemukan pasukan umat Islam dan juga orang kafir Rom.
Jumlah tentera umat Islam ialah 24,000 manakala tentera kafir Rom ialah 120,000.

24,000 vs 120,000

Said menceritakan suasana Perang Yarmouk yang sungguh menggerunkan itu.

"Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangan-tangan tersembunyi. Ditambah lagi orang kafir Rom meletakkan di barisan hadapan mereka golongan pendeta,perwira dan paderi salib-salib dengan memegang salib dan berdoa. Tentera-tentera di belakang mengaminkan. Suara itu bergema"

Waktu itu, tatkala melihat tentera-tentera Islam yang dilanda ketakutan Abu Ubaidah pantas bangun dan bangkitkan semangat jihad kaum muslimin.

“Wahai hamba-hamba Allah! Menangkan agama Allah! Pasti Allah akan menolong kamu, dan memberikan kekuatan kepada kamu!“Wahai hamba-hamba Allah! Tabahkan hati kalian! Karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran; jalan mencapai keridhaan Allah, dan menolak kehinaan.“Siapkan lembing dan perisai! Tetaplah tenang dan diam! Kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dalam hati kalian masing-masing.“Tunggu perintah saya selanjutnya! Insya Allah!”


Pesanan yang ringkas namun cukup untuk memotivasikan jiwa-jiwa yang beriman kepada Allah.

Tiba-tiba ada seorang tentera Islam meluru ke depan dan berkata:

"Aku mahu ber jumpa Rasulullah. Ada kalian mahu sampaikan pesan?"
MasyaAllah! Kawan-kawan lihatlah tingginya semangat mahu syahid tentera Islam ini!  

Abu ubaidah menjawab.

"Ya,sampaikan salam kami dan salam-salam orang Islam dan sampaikanlah pesan kepada Rasulullah bahawa kami telah mendapati apa yang Allah janjikan itu benar-benar terbukti (Qaisa akan dimiliki)."

Lantas semangat jihad terus membara dan perasaan takut pun hilang.

Di akhir peperangan Yarmouk,Allah menetapkan kemenangan pada orang Islam! Allahu Akbar!


Said bin Zaid  juga telah terlibat dalam pembukaan kota damsyiq dan menjadi wali damsyiq (Dilantik oleh Abu Ubaidah)

_*****_*****_*****_*****_*****_*****_


Hidup manusia memang tidak akan lari daripada ujian. Begitu juga dengan Said bin Zaid.

Semasa pemerintahan Bani Umaiyah, Arwa  mengatakan Said merampas tanahnya yang bersebelahan. Arwa jumpa dengan Marwan bin Hakim yang merupakan hakim zaman itu. Arwa menceritakan masalahnya pada hakim tersebut. Said pun berkata,

 " Engkau kata aku menzalimi engkau. Macam mana aku nak menzalimi engkau sedangkan aku pernah mendengar Rasulullah bersabda  bahawa siapa yang mengambil tanah orang walaupun sejengkal,di akhirat kelak Allah akan pikulkan 7 lapis bumi kepadanya"


Maksudnya di sini, betapa beratnya hukuman orang yang mengambil tanah orang yang bukan haknya.

Lalu Said berdoa kepada Allah;

"Ya Allah, sekiranya dia menuduh aku menzalimi dia tetapi dia menipu. Ya Allah,butakanlah matanya dan jatuhkanlah dia dalam tanah yang dia katakan aku merampasnya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hakku dan aku tidak pernah menzaliminya.”

Tak sampai beberapa ketika, jadilah banjir di Madinah. Allah telah menzahirkan  batasan tanah milik Arwa dan Said yang mereka perselisihkan. Orang-orang Islam mendapat bukti bahawa Said berada di pihakyang benar manakala tuduhan Arwa adalah palsu.

 Beberapa ketika selepas itu, Arwah menjadi buta. Ketika Arwa sedang berjalan di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur lalu mati.

'Abdullah bi 'Umar berkata:

“Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, ‘Dibutakan Allah kamu seperti Arwa.”

Kawan-kawan, perkara seperti ini iaitu doa hamba Allah dimakbulkan bukanlah suatu perkara yang  pelik kerana Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Takutlah doa orang yang dizalimi kerana doa orang yang dizalimi dengan Allah tiada hijab"

Apatah lagi sekiranya doa itu adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk syurga.


Alhamdulillah.Selesai.

| 22 April 2011| 10.27 pm|
Mansoura,Mesir

p.s: Kisah Said bin Zaid ni ana dapat semasa menghadiri MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Mansoura. Kisah ini boleh didapati dalam buku 60 sahabat nabi yang silibus usrah sekolah Hidayah guna. Tapi yang ana dapat ni dalam versi bahasa Arab. (lupa nama buku dia. Siapa ingat?)
Related Posts with Thumbnails